Sejarah Interaksi Internasional

Brasil meraih kemerdekaannya dari Portugis pada 7 September 1822. Negara yang terletak di bagian tengah dan timur Amerika Selatan ini menjadi wilayah jajahan Portugis sejak 1494. Pada 1889, sistem pemerintahan Brasil berubah dari monarki menjadi republik.

Untuk itu saya akan menjabarkan Interaksi yang dilakukan Brazil ini menjadi 4 masa atau periode :

1. Era kolonial

2. Kemerdekaan

3. Kerajaan

4. Republic

Era Kolonial

Garis pantai yang lembab dan subur, yang kini merupakan negara bagian Pernambuco sangat sesuai untuk penanaman tebu dan pelabuhan kapal-kapal laut yang singgah dalam perjalanan dari Portugal ke Afrika Barat dan Orient ( India , Cina dan Jepang). Perdagangan segitiga berkembang maju. Ekspor ke pasar-pasar Eropa meningkat melebihi penyediaan.

Uni Spanyol dan Portugal ( 1580 – 1640 )

Raja Sebastian dari Portugal wafat tanpa meninggalkan ahli waris pada tahun 1578, menyebabkan Philip II dari Spanyol merebut kekuasaan di Lisbon . Dengan bersatunya kedua kerajaan besar ini pada tahun 1580-1640, praktis seluruh Amerika Selatan berada dibawah kendali Spanyol. Tanpa batas-batas negara yang jelas, orang-orang Portugis dan Brasil melakukan ekspansi ke daerah-daerah pedalaman yang luas. Titik awal ekspansi adalah São Vicente . Dimulai dari wilayah pantai mengarah ke pedalaman, ekspedisi Bandeiras , melalui hutan mendaki lereng-lereng terjal dan melintasi daerah pedalaman, secara tidak langsung dikemudian hari memperluas batas-batas Brasil. Di tahun 1640 sewaktu Portugis di bawah pemerintahan John IV memperoleh kembali kemerdekaannya, mereka menolak untuk meninggalkan tanah yang mereka duduki. Berdasarkan hak uti possidetis dalam kaidah hukum internasional, orang-orang Portugis menetapkan hak atas tanah yang telah mereka duduki.

Temuan Emas ( 1690 – 1800 )

Pada paruh kedua abad ke-17 Portugal tidak lagi berpegang pada peraturan yang digariskan oleh Spanyol, bagian timur laut Brasil merdeka dari 24 tahun pendudukan Belanda dan produksi gula menurun. Penemuan emas menarik ribuan orang dari perkebunan-perkebunan di pesisir pantai dan juga imigran dari Portugal . Peternakan di daerah pedalaman juga berkembang untuk memenuhi kebutuhan akan daging dan kulit saat itu. Pada periode 1700 – 1800 hampir 1.000 ton emas dan 3 juta karat intan dihasilkan di daerah yang sekarang dikenal sebagai Minas Gerais. Penambangan emas diatur oleh Portugal dan dikapalkan ke Lisbon . Dibawah ketentuan perjanjian Methuen di tahun 1703, Inggris memasok produk tekstil ke Portugal dan dibayar dengan emas dari tambang-tambang Brasil. Emas Brasil di London saat itu membantu mendanai revolusi industri.

Kopi

Menyusul lonjakan penambangan emas dan intan, ditemukan sumber kekayaan yang lebih penting – kopi. Pertambangan menyebabkan migrasi penduduk dari Pernambuco dan Bahia selatan ke Minas Gerais. Penyebaran perkebunan kopi juga menumbuhkan pemukiman-pemukiman baru ke daerah selatan. Kopi pertama-tama mencapai Brasil melalui French Guiana pada abad ke-18. Perkebunan awalnya berada di daerah pedalaman Rio de Janeiro dan mempekerjakan buruh-buruh budak, namun penghapusan perbudakan dan imigrasi pendatang Eropa ke negara bagian São Paulo di akhir abad ke-19 membuat penanaman kopi lebih berkembang di daerah selatan dimana keadaan tanah dan iklimnya lebih ideal, menjadikan Brasil produsen kopi terbesar di dunia.

Kejadian penting lainnya di paruh kedua abad ke-18 adalah pengalihan kedudukan pemerintah kolonial. Setelah lebih dari 200 tahun di Salvador, ibukota dipindahkan ke Rio de Janeiro, mendominasi akses rute utama ke Minas Gerais dan juga lebih dekat ke pusat-pusat penduduk yang tengah berkembang di wilayah-wilayah selatan.

Rasa Nasionalisme

Peran Portugal selama jangka waktu menguasai Brasil, pada dasarnya adalah perantara antar koloni sebagai produsen dan pusat perekonomian Eropa sebagai konsumen. Memonopoli semua perdagangan dengan Brasil , Portugal memperoleh bagian keuntungan yang substansial, hal mana menimbulkan ketidaksenangan pemukim, sehingga mereka mulai mengusahakan perdagangan tanpa melibatkan Portugal . Perjuangan untuk menghalau invasi Belanda dan Perancis dari wilayah timur laut pada awal abad ke-17 menumbuhkan rasa persatuan diantara para pemukim.

Pertengahan abad ke –18 keinginan untuk merdeka semakin nyata, meskipun pergerakan melawan pemerintah Portugis masih bersifat kewilayahan. Konspirasi Minas (Inconfidência Mineira) terjadi di daerah pusat penambangan emas dahulu, dipimpin oleh seorang perwira kavaleri muda, Joaquim José da Silva Xavier, yang lebih terkenal dengan nama Tiradentes . Tiradentes memperoleh banak dukungan, terutama dikalangan intelektual yang mempunyai idealisme liberal yang sama mengilhami para ensiklopedis Perancis dan pemimpin revolusi Amerika. Konspirasi untuk kemerdekaan Brasil ini terbongkar dan pemimpinnya menerima hukuman berat. Tiradentes digantung di lapangan umum di Rio de Janeiro . Pergerakan-pergerakan lain terjadi di Pernambuco dan Bahia tetapi tidak berhasil mengalahkan dominasi Portugis saat itu.

Pengalihan dari Pengadilan Portugis ke Brasil ( 1808 – 1821 )

Pada tahun 1808 bersamaan dengan saat tentara Napoleon mulai melakukan invasi ke Portugal, keputusan dibuat untuk mengalihkan kerajaan dan peradilan Portugal ke Rio de Janeiro hingga tahun 1821. Dominasi Napoleon berakhir pada tahun 1815 namun Raja João VI lebih memilih untuk berada di Rio de Janeiro, sebelum akhirnya kembali ke Portugal pada tahun 1821 dan memberikan kuasa kepada putra mahkotanya.

Proklamasi Kemerdekaan ( 1822 )

Kurang dari satu tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 7 September 1822, Putra mahkota memproklamasikan kemerdekaan Brasil sebagai kerajaan dengan dirinya dinobatkan sebagai Emperor Pedro I tanggal 1 Desember 1822, atas pemikiran José Bonifácio de Andrada e Silva, seorang ahli geologis dan penulis terkemuka Brasil yang menjadi penasihat kepercayaan Putra mahkota. Berbeda dengan proses kemerdekaan Spanyol yang melalui peperangan, Portugal dan Brasil memilih negosiasi dengan Inggris sebagai perantara. Melalui peperangan singkat (1822-1824), Brasil menjadi kerajaan di bawah kekuasaan Dom Pedro I.

Pedro I ( 1822-1831 )

Penguasa pertama Brasil merdeka ini mempunyai kepribadian yang sangat mengesankan. Ia memberikan fase baru bagi akselerasi evolusi sosial dan politik di abad ke-19 dengan memberlakukan di Brasil tahun 1824 dan di Portugal dua tahun kemudian, sistem konstitusi yang tidak berpegang pada acuan hak raja-raja seperti sebelumnya. Dengan wafatnya Raja João VI pada tahun 1826, Dom Pedro mewarisi tahta kerajaan Portugal, namun dilimpahkannya kepada putrinya yang masih kecil, Maria da Glória, yang kemudian menjadi Ratu Maria II. Pada tahun 1831, Dom Pedro mewariskan tahta kerajaan Brasil kepada putranya Dom Pedro II yang juga masih anak-anak, sementara ia sendiri kembali ke Portugal untuk menyingkirkan saudara laki-lakinya, Miguel, yang merampas kekuasaan tahta dari Ratu Maria.

Pedro II ( 1831 – 1889 )

Tidak seperti ayahnya, Pedro II tumbuh menjadi seorang pemimpin yang intelektual, keras namun berkepala dingin. Dalam masa pemerintahannya selama separuh abad, Brasil mencapai kematangan politik dan budaya serta kesatuan negara semakin kuat. Institusi-institusi politik dan sosial berkembang dan mencapai stabilitas. Perbudakan secara progresif dikurangi hingga sepenuhnya dihapuskan pada tahun 1888. Imigrasi dari Eropa meningkat, program-program kesehatan dan kesejahteraan dicanangkan dalam skala nasional. Transisi dari kerajaan ke republik direncanakan dengan matang untuk tidak menimbulkan pertikaian.

Meskipun kedamaian dan stabilitas telah berhasil dijalankan dibawah kerajaan, Brasil tetap menghadapi ancaman-ancaman dari perbatasan daerah selatannya, semisal Perang Aliansi Ketiga (1865-1870) dimana Brasil bersatu dengan Argentina dan Uruguay melawan Paraguay . Dengan perjanjian perdamaian pada tahun 1872 Brasil menjamin integritas territorial Paraguay . Itu merupakan konflik bersenjata terakhir yang dialami Brasil dengan kesepuluh negara tetangganya.

Republik

Akhir dari Kerajaan: Penghapusan Perbudakan ( 1888 )

Penghapusan akhir dari perbudakan merupakan sebab utama jatuhnya kerajaan. Putri Isabel yang menjabat, menggantikan raja yang sedang berada di Eropa, menandatangani “Golden Law”( Lei Áurea ) yang menghapuskan perbudakan di Brasil. Setelah mengalami beberapa bulan krisis parliamenter raja diturunkan dari tahta pada tanggal 15 Nopember 1889 melalui pergerakan militer yang memproklamirkan pendirian republik. Perubahan tersebut berlangsung tanpa pertumpahan darah. Raja dan keluarga diminta meninggalkan Brasil ke pengasingan di Perancis. Kebanyakan tokoh terkemuka Brasil mendukung perubahan tersebut, termasuk diantaranya Baron of Rio Branco. Adalah kebijakannya berdiplomasi yang memungkinkan Brasil mengakhiri dengan perjanjian atau arbitrase, hampir semua perselisihan perbatasan yang saat itu belum terselesaikan.

Sistem Federasi dan Presidensial

Sistem federasi yang diterapkan saat itu mendasari sistem yang berlaku sekarang. Sistem propinsi dirubah menjadi negara bagian. Sistem parliamenter digantikan dengan presidensial; Kongres yang terdiri dari dua dewan dibentuk, demikian pula peradilan tinggi yang independen. Pemilihan presiden ditentukan berdasarkan sistem kostitusional hingga tahun 1930.

Republik Baru ( 1930 – 1937 )

Yang disebut “Republik Pertama” berakhir pada tahun 1930 saat pemerintah digulingkan secara paksa. Tujuan utama gerakan revolusioner yang dikepalai oleh Getúlio Vargas ini adalah mereformasi sistem pemilihan dan politik dengan dukungan penuh oleh gubernur dari negara bagian São Paulo dan Minas Gerais. Getúlio Vargas memerintah selama 15 tahun berikut pada masa-masa sulit Brasil. Harga kopi menurun akibat depresi ekonomi dunia. Situasi politik internal Brasil dipengaruhi oleh krisis ekonomi serta benturan antara paham Nazi Jerman dan Fasis Itali dengan ideologi komunis yang mempengaruhi sekelompok minoritas militer.

Era Vargas ( 1938 – 1945 )

Setelah rezim Vargas dikonsolidasikan pada tahun 1934, negara memberlakukan kostitusi baru yang memberikan peluang lebih bagi wanita. Pada akhir tahun 1937 tepat sebelum pemilihan presiden dilaksanakan, suasana politik memanas dan menyebabkan Presiden Vargas menyatakan negara dalam keadaan darurat. Kongres dibubarkan. Pemerintah dijalankan dengan keputusan-keputusan otoriter. Meskipun demikian beberapa kebijakan penting berhasil diterapkan mencakup undang-undang kesejahteraan, reformasi sistem pendidikan serta kemajuan industrialisasi termasuk pembangunan pabrik baja besar pertama di Brasil (1942-1946).

Semasa perang dunia II pemerintahan Vargas tidak dapat mengesampingkan dukungan yang di berikan mayoritas masyarakat Brasil kepada pihak sekutu. Pandangan negatif yang selanjutnya dipertajam oleh aksi kekerasan kapal selam Jerman di sepanjang pantai Brasil memaksa presiden Vargas untuk meninggalkan posisi netral Brasil dan menyatakan perang terhadap poros Jerman dan Itali. Brasil dengan 25.000 pasukan ekspedisioner berperang di Itali bersama-sama dengan tentara Amerika Serikat. Brasil adalah satu-satunya negara Amerika selain Amerika Serikat dan Kanada, yang mengirimkan pasukan bersenjatanya ke peperangan di Eropa .

Pasca Perang Brasil ( 1945 – 1964 )

Mendekati akhir peperangan di Eropa, Vargas dipaksa mengundurkan diri. Pemilihan dilakukan untuk menunjuk penggantinya. Melalui pengambilan suara yang pertama kalinya dilakukan semenjak 15 tahun lalu, Jenderal Eurico Gaspar Dutra, Menteri Pertahanan Vargas selama masa peperangan, memperoleh mayoritas suara. Konstitusi demokratis baru disetujui oleh para dewan pemilih pada tahun 1946 dan dijalankan hingga 1967. Masa jabatan Dutra berakhir pada tahun 1951. Vargas yang berada di pengasingan di Rio Grande do Sul mempersiapkan diri untuk pemilihan. Pada akhir masa pemerintahan Dutra, Vargas terpilih sebagai Presiden secara konstitusional. Pada tahun 1954 ditengah kemelut krisis politik, Vargas bunuh diri dan seorang pejabat pemerintah meneruskan menyelesaikan masa pemerintahannya.

Brasil mengalami masa lima tahun percepatan ekspansi ekonomi dibawah pimpinan Presiden Juscelino Kubitschek (1956-1961), pendiri Brasília. Penggantinya adalah Presiden Jânio Quadros yang hanya menjabat kurang dari setahun. Wakil Presiden Quadros adalah João Goulart, yang disumpah menjadi Presiden hanya setelah konggres dengan pertimbangan singkat memberikan suara secara parliementer dan secara drastis membatasi kekuasaan Presiden. Dalam suatu plebisit empat bulan kemudian, Presiden Goulart berhasil mempertahankan sistem presidensial lama. Inflasi dan polarisasi politik menyebabkan dua setengah tahun keresahan sosial politik dan krisis perekonomian. Kekhawatiran akan paham Marxist yang dianut Goulart, kaum militer menyingkirkannya dalam suatu kudeta pada tanggal 31 Maret 1964.

Selama Perang Dunia II, Brasil mengirim 25.000 tentaranya ke Italia untuk turut berperang melawan nazi-fasisme dan dari jumlah itu, 5.000 diantaranya meninggal di tanah Italia dalam berperang membela demokrasi. Di Pistoia-Itali, terdapat satu kuburan yang dibangun untuk memperingati para serdadu Brasil itu.

Pemerintah Militer ( 1964 – 1985 )

Periode ini ditandai dengan pemerintahan lima presiden, kesemuanya jenderal militer. Pertama, Presiden Castello Branco, dengan paham anti komunis mengusahakan stabilitas situasi politik dan perekonomian negara. Pada tahun 1968, di masa pemerintahan Presiden Arthur da Costa e Silva, strategi pekonomian nampaknya tercapai. Inflasi dapat dibatasi dan perusahaan-perusahaan asing mulai berinvestasi. Presiden Costa e Silva mengundurkan diri pada tahun 1969 karena sakit. Pemerintahan diambil alih oleh militer, lalu dua bulan kemudian Presiden Emílio Garrastazu Médici memerintah. Antara 1967-1974 laju pertumbuhan ekonomi Brasil termasuk salah satu tertinggi di dunia. Pada pertengahan tahun 1970an Presiden Ernesto Geisel memelopori proses restorasi demokrasi. Pada tahun 1979 João Baptista Figueiredo dilantik menjadi presiden dan beliau menerapkan kebijakan politik seperti restorasi hak-hak politik yang sebelumnya ditiadakan. Banyak dari mereka yang diasingkan diijinkan kembali. Tahun ini juga ditandai dengan tuntuan rakyat untuk re-demokratisasi. Pada tahun 1982 negara melakukan pemilihan langsung untuk gubernur-gubernur negara bagian, yang merupakan pertama kalinya dilakukan sejak 1965.

Kembali ke Demokrasi ( 1985 )

Pada tahun 1984 terjadi demonstrasi si seluruh Brasil, menuntut pemilihan umum langsung (‘ Diretas Já’ ) untuk memilih presiden baru. Pada tahun 1985, Tancredo de Almeida Neves terpilih sebagai presiden. Ia merupakan presiden sipil pertama yang dipilih dalam 21 tahun terakhir dan juga kandidat koalisi oposisi. Tanggal 14 Maret 1985, pada malam pelantikannnya, Neves dilarikan ke rumah sakit akibat penyakit yang telah dideritanya selama beberapa bulan. Tokoh yang bertindak sebagai pejabat presiden adalah Wakil Presiden José Sarney. Ketika Neves meninggal dunia lima minggu kemudian, José Sarney disumpah sebagai Presiden. Beliau menjanjikan akan meneruskan rencana-rencana yang telah ditetapkan oleh Tancredo Neves. Prioritas pertamanya adalah pemilihan umum untuk membentuk dewan pemilihan nasional guna merancang konstitusi baru. Konstitusi baru dicanangkan pada 5 Oktober 1988.

Tahun 1989, pada pemilihan presiden langsung yang pertama diadakan sejak 1960, Fernando Collor de Mello dipilih menjadi Presiden. Akibat tuduhan korupsi pada pemerintahan Fernando Collor de Mello, 29 Desember 1992 Itamar Franco yang saat itu menjabat sebagai wakil presiden disumpah menjadi presiden, meneruskan sisa dua tahun pemerintahan tersebut. Selama masa pemerintahan Presiden Itamar Franco rencana komprehensif untuk menahan laju inflasi diterapkan.

Pada 3 Oktober 1994 pemilih memberi 78 juta suara bagi Presiden baru Republik. Fernando Henrique Cardoso, seorang sosiologis yang sebelumnya adalah menteri keuangan yang bertanggung jawab atas perencanaan perekonomian Presiden Franco, memperoleh kemenangan mutlak untuk memenangkan kursi kepresidenan pada putaran pertama pemilihan. Ia mulai menjabat 1 Januari 1995 untuk masa jabatan 4 tahun. Di masa awal pemerintahannya Brasil mengalami penurunan tetap dalam laju inflasi, gagasan-gagasan baru untuk pertumbuhan perekonomian dan kematangan tindakan pemerintah dalam reformasi sosial. Presiden Cardoso dipilih untuk masa jabatan kedua pada 4 Oktober 1998 dan berakhir pada 1 Januari 2003. Pada pemilihan presiden yang dilangsungkan tahun 2002 Luiz Inácio Lula da Silva dari partai buruh terpilih menjadi Presiden Brasil yang berikutnya, untuk masa jabatan Januari 2003 hingga Desember 2006.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: